Hilang Arah
Rasanya semua jadi serba salah. Luka lama ini dapat biarkan terlalu lama seperti makin menjadi jadi.
Seperti pagi ini. Begitu bangun pagi aku memutuskan untuk menyuci di mesin cuci tapi ternyata di mesin cuci itu, ada seprai yang masih belum selesai dicuci oleh keluarga ku. Itu seprai yang biasa di pakai kerja karena keluarga ku seorang terapis. Air bekas sabun cucian masih menggenang di bawahnya. Akhirnya air itu aku buang.
Tak lama ibuku datang masih menggunakan mukena. Dia bertanya kamu sedang cuci apa itu? Lalu aku jawab, gak ini abis buang air cucian seprai.
Lalu ibuku berkata "kenapa air cucian nya kamu buanang padahalkan ibu belum beres nyuci nya terus kan tadinya ibu mau pake air itu buat nanti mau ibu tambahkan lagi sabun"
Dengan nada menyolot lalu aku bilang "YAAA... AKU GA TAU"
Dari situ ibuku terus mengoceh dan pikiran ku terbang kepada ingatan dimana sehari sebelumnya aku di minta ibu untuk mencuci baju adik ku namun belum aku cuci karena lupa. Dan kenangan dimana setiap kesalahan ku selalu di pertanyakan dan usahaku, yang aku merasa setiap usaha yang kulakukan itu tak pernah di hargai.
Contohnya saja memasak. Dari kecil aku ga pernah sama sekali di ajarkan untuk memasak kecuali memotong bawang dan cara menggoreng untuk memasak daging lengkap aku ga tau. Sehingga tibalah di usiaku memasuki masa SMP ibu ku sudah memintaku untuk memasak makanan yang menurut ku itu sulit. Ya dia menyuruhku memasak daging ayam. Padahal dia tau aku ga bisa. Aku hanya di kasih arahan itu pun terpotong-potong tanpa ada pengawasan lebih lanjut, sehingga alhasil daging itu hampir gosong di luar dan masih mentah di dalam.
Itu pertama kalinya aku memasak. Dan ibuku setiap kali masakan ku salah iya akan mengoceh agar aku belajar. Tanpa aku tahu belajar memasak itu seperti apa apa yang harus aku lakukan karena itu pertama kali aku memasak juga. Dan setiap kali aku ingin berusaha belajar bersungguh-sungguh ibu pasti menyuruhku untuk menjauh.
Dari situ aku merasa, setiap usaha sekecil apapun aku berusaha perduli caraku tetap salah dan aku tidak bisa memenuhi semua ekspektasi ibuku.
Padahal dari dulu aku juga bukan tipikal anak yang suka minta jajan, karena menurut ku itu merepotkan dan sebisa mungkin aku ingin mengurangi pengeluaran itu. Aku bahkan jarang meminta dibelikan baju, meski bajuku rusak pun aku tetap akan memakai nya, aku hanya membeli baju untuk satu tahun sekali, dan aku tidak terlalu mengeluh dengan keadaan, bahkan untuk sekolah yang tidak pernah aku inginkan. Walaupun ibu tau semakin hari keadaanku memburuk aku merasa tidak pernah di inginkan siapapun bahkan teman pun sedikit sekali yang bisa dekat dengan ku. Kebanyakan dari mereka menjauhiku dan kebanyakan dari cerita mereka tidak menyenangkan. Padahal aku merasa tidak pernah mengganggu siapapun atas keputusan yang aku ambil sendiri tapi aku. Entahlah...
Semua jadi serba salah dimataku.
Dan rasanya luka luka ini seperti hantu yang siap siaga menerkam mental ku kapan saja.
Rasanya aku ingin pulang, pulang ketempat seharusnya aku di pulangkan. Tapi aku selalu berpikir apakah saat aku pulang nanti aku masih ada muka untuk bertemu dengan sang pencipta setelah apa yang ku perbuat pada diriku sendiri.
Semuanya jadi serba salah.
Aku begitu takut akan masa depan.
Di tambah usia ku yang semakin tahun akan bertambah menua.
Apakah aku sanggup untuk mempunyai pasangan? Atau pilihan lain nya apakah aku sanggup jika hidup ku melajang tanpa ada teman satu orang pun disisiku?
Apabila aku menikah, apakah aku sanggup mempunyai seorang anak?
Dan ketakutan paling terbesar ku adalah aku takut, anak ku akan mengalami apa yang pernah aku alami saat itu dimasa masa tersulit ku di masa pandemi saat kami bahkan tidak bisa makan dengan kenyang hanya menyisakan nasi goreng dan mie instan dari uang jajan sekolah yang di tabung. Dan ransel tak layak pakai serta sepatu pas pasan untuk pergi ke sekolah.
Komentar
Posting Komentar